Jumat, 20 Desember 2013

bblr

ASUHN KEPERAWATAN BBLR DISUSUN OLEH. 1. ADE ERNA WIDIANI 2. ARUM WULANDARI KESUMA 3. FANNY A AGNESIARIST 4. FAESAL SALAMUN SHODIQ 5. GUSTIAR DEARDIE 6. M. TRI SOETRISNO Tingkat : II.A1 Mata Kuliah : Keperawatan Anak Dosen Pengampu : Luci Fransisca, S. Kp, Ns, RN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA POLITEKNIK KESEHATAN PALEMBANG JURUSAN KEPERAWATAN 2011/2012 KATA PENGANTAR Puji syukur kami ucapkan kepada Tuhan YME, karena berkat rahmat, karunia dan hidayah-Nyalah kami dapat menyelesikan pembuatan makalah yang berjudul asuhan keperawatan pada anak dengan BBLR. Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini selain untuk memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan anak, juga sebagai informasi tambahan bagi mahasiswa mengenai asuhan keperawatan pada anak dengan asma. Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada dosen pembimbing, yang telah membimbing dan memberi saran serta masukan kepada kami dalam menyusun makalah ini. Kami menyadari makalah ini masih jauh dari kata sempurna, oleh karena itu kritik dan saran yang bersifat membangun tetap kami nantikan demi kesempurnaan makalah ini di masa mendatang. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak, amin. Palembang, Mei 2013 Penulis DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL………………………………………………......... KATA PENGANTAR……...…………………………………………... DAFTAR ISI……….. …………………………………………………... BAB I PENDAHULUAN……………………………………………. 1.1. Latar Belakang…………………………………………….. 1.2. Rumusan Masalah ................................................................ 1.3. Tujuan Penulisan ................................................................. BAB II PEMBAHASAN 2.1 Definisi BBLR ...................................................................... 2.2 Etiologi BBLR ...................................................................... 2.3 Tanda-Tanda Klinis BBLR ................................................... 2.4 Komplikasi BBLR ................................................................ 2.5 Pemeriksaan Diagnostik ....................................................... 2.6 Penatalaksanaan ................................................................... 2.7 Memberitahukan pemeriksaan penunjang pada klien asma 2.8 Asuhan Keperawatan pada klien dengan asma BAB III ASUHAN KEPERAWATAN................................................ 1. Pengkajian………...………………………………………... 2. Diagnosa Keperawatan..…..………...…………………….... 3. Intervensi Keperawatan.......................................................... 4. Imlementsi Keperawatan ........................................................ 5. Evaluasi .................................................................................. BAB IV PENUTUP 1. Kesimpulan ........................................................................... 2. Saran ..................................................................................... DAFTAR PUSTAKA………………………………………………… BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Bayi lahir dengan bayi berat lahir rendah (BBLR) merupakan salah satu factor resiko yang mempunyai kontribusi terhadap kematian bayi khususnya pada masa perinatal. Selain itu bayi berat lahir rendah dapat mengalami gangguan mental dan fisik pada usia tumbuh kembang selanjutnya, sehingga membutahkan biaya perawatan yang tinggi. Bayi berat lahir rendah (BBLR) adalah salah satu hasil dari ibu hamil yang menderita energy kronis dan akan mempunyai status gizi buruk. BBLR berkaitan dengan tingginya angka kematian bayi dan balita, juga dapat berdampak serius pada kualitas generasi mendatang, yaitu akan memperlambat pertumbuhan dan perkambangan anak, serta berpengaruh pada penurunan kecerdasan. Salah satu indicator untuk mengetahui derajat kesehatan masyarakat adalah angka kematian bayi (AKB). Angka kematian bayi di Indonesia saat ini masih tergolong tinggi, maka kematian bayi di Indonesia tercatat 510 per 1000 kelahiran hidup pada tahun 2003. Ini memang bukan gambaran yang indah karena masih tergolong tinggi bila di bandingkan dengan Negara-negara di ASEAN. Penyebab kematian bayi terbanyak karena kelahiran bayi berat lahir rendah (BBLR), sementara itu prevalensi BBLR pada saat ini diperkirakan 7-14% yaitu sekitar 459.200-900.000 bayi ( depkes RI 2005). Menurut perkiraan WHO, pada tahun 1995 hampir semua 98% dari 5 juta kematian neonatal di Negara berkembang atau berpenghasilan rendah. Lebih dari 2/3 kematian adalah BBLR yaitu berat badan kurang dari 2500 gram. Secara global diperkirakan terdapat 25 juta persalinan per tahun dimana 17% diantaranya adalah BBLR dan hampir semua terjadi di Negara berkembang. 1.2.Rumusan Masalah 1. Apa yang dimaksud dengan BBLR ? 2. Apa etiologi BBLR ? 3. Bagaimana tanda – tanda klinis BBLR ? 4. Apa saja komplikasi pada BBLR ? 5. Bagaimana pemeriksaan diagnostik pada BBLR ? 6. Bagaimana penatalaksanaan pada BBLR ? 1.3.Tujuan 1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan BBLR 2. Untuk mengetahui etiologi BBLR 3. Untuk mengetahui tanda – tanda klinis BBLR 4. Untuk mengetahui komplikasi pada BBLR 5. Untuk mengetahui pemeriksaan diagnostik pada BBLR 6. Untuk megetahui pentalaksanaan pada BBLR BAB II PEMBAHASAN 2.1.Definisi Bayi berat lahir rendah ( BBLR ) adalah bayi dengan berat lahir kurang dari 2500 gram ( berat lahir adalah berat bayi yang ditimbang dalam 1 jam setelah lahir ). Klasifikasi BBLR a. Berdasarkan BB lahir 1. BBLR : BB < 2500gr 2. BBLSR : BB 1000-1500gr 3. BBLESR : BB <1000 gr b. Berdasarkan umur kehamilan 1. Prematur Adalah bayi lahir dengan umur kehamilan kurang dari 37 minggu dan mempunyai berat badan sesuai dengan berat badan untuk masa kehamilan atau disebut Neonatus Kurang Bulan-Sesuai Masa Kehamilan ( NKB- SMK). 2. Dismaturitas Adalah bayi lahir dengan berat badan kurang dari berat badan seharusnya untuk masa kehamilan, dismatur dapat terjadi dalam preterm, term, dan post term. Dismatur ini dapat juga Neonatus Kurang Bulan – Kecil untuk Masa Kehamilan (NKB- KMK), Neonatus Cukup Bulan-Kecil Masa Kehamilan ( NCB-KMK ), Neonatus Lebih Bulan-Kecil Masa Kehamilan ( NLB- KMK ). 2.2.Etiologi 1. Faktor Ibu • Gizi saat hamil kurang • Umur < 20 tahun / lebih 35 tahun • Jarak kehamilan dan bersalin terlalu dekat. • Ibu pendek, tinggi badan < 145 cm • Penyakit menahun ibu, hipertensi, jantung, gangguan pembuluh darah, perokok dan narkotik. 2. Faktor kehamilan • Kehamilan hidramnion • Hamil ganda • Perdarahan antepartum • Komplikasi kehamilan, pre eklamsi, KPD 3. Faktor janin • Cacat bawaan • Infeksi dalam rahim • Gangguan metabolisme pada janin. 2.3.Tanda – tanda klinis 1. Gambaran klinis BBLR secara umum adalah : • Berat kurang dari 2500 gram • Panjang kurang dari 45 cm • Lingkar dada kurang dari 30 cm • Lingkar kepala kurang dari 33 cm • Umur kehamilan kurang dari 37 minggu • Kepala lebih besar • Kulit tipis, transparan, rambut lanugo banyak, lemak kurang • Otot hipotonik lemah • Pernapasan tak teratur dapat terjadi apnea • Eksremitas : paha abduksi, sendi lutut / kaki fleksi-lurus • Kepala tidak mampu tegak • Pernapasan 40 – 50 kali / menit • Nadi 100 – 140 kali / menit 2. Gambaran klinis BBLR secara khusus adalah a. Tanda-tanda Bayi Prematur 1) BB kurang dari 2500 gr, PB kurang dari 45 cm, lingkar kepala kurang dari 33 cm, lingkar dada kurang 30 cm. 2) Umur kehamilan kurang dari 37 mg. 3) Kepala relatif lebih besar dari pada badannya. 4) Rambut tipis dan halus, ubun-ubun dan sutura lebar. 5) Kepala mengarah ke satu sisi. 6) Kulit tipis dan transparan, lanugo banyak, lemak subkutan kurang, sering tampak peristaltik usus. 7) Tulang rawan dan daun telinga imatur. 8) Puting susu belum terbentuk dengan baik. 9) Pergerakan kurang dan lemah. 10) Reflek menghisap dan menelan belum sempurna. 11) Tangisnya lemah dan jarang, pernafasan masih belum teratur. 12) Otot-otot masih hipotonis sehingga sikap selalu dalam keadaan kedua paha abduksi, sendi lutut dan pergelangan kaki fleksi atau lurus. 13) Genetalia belum sempurna, labia minora belum tertutup oleh labia mayora (pada wanita), dan testis belum turun (pada laki laki). b. Tanda-tanda pada Bayi Dismatur 1) Preterm sama dengan bayi premature 2) Term dan post term : • Kulit pucat atau bernoda, keriput tipis. • Vernik caseosa sedikit/kurang atau tidak ada. • Jaringan lemak di bawah kulit sedikit. • Pergerakan gesit, aktif dan kuat. • Tali pusat kuning kehijauan. • Mekonium kering. • Luas permukaan tubuh relatif lebih besar dibandingkan BB. 2.4.Komplikasi pada BBLR 1. Pada prematur yaitu : • Sindrom gangguan pernapasan idiopatik disebut juga penyakit membran hialin karena pada stadium terakhir akan terbentuk membran hialin yang melapisi alveoulus paru. • Pneumonia Aspirasi : disebabkan karena infeksi menelan dan batuk belum sempurna, sering ditemukan pada bayi prematur. • Perdarahan intra ventikuler : perdarahan spontan diventikel otot lateral biasanya disebabkan oleh karena anoksia otot. Biasanya terjadi kesamaan dengan pembentukan membran hialin pada paru. Kelainan ini biasanya ditemukan pada atopsi. • Hyperbilirubinemia : bayi prematur lebih sering mengalami hyperbilirubinemia dibandingkan dengan bayi cukup bulan. Hal ini disebabkan faktor kematangan hepar sehingga konjungtiva bilirubium indirek menjadi bilirubium direk belum sempurna. • Masalah suhu tubuh : masalah ini karena pusat pengeluaran nafas badan masih belum sempurna. Luas badan bayi relatif besar sehingga penguapan bertambah. Otot bayi masih lemah, lemak kulit kurang, sehingga cepat kehilangan panas badan. Kemampuan metabolisme panas rendah, sehingga bayi BBLR perlu diperhatikan agar tidak terlalu banyak kehilangan panas badan dan dapat dipertahankan sekitar (36,5 – 37,5 0C) (Manuaba, 1998 : 328 2. Pada bayi Dismatur Pada umumnya maturitas fisiologik bayi ini sesuai dengan masa gestasinya dan sedikit dipengaruhi oleh gangguan-gangguan pertumbuhan di dalam uterus. Dengan kata lain, alat-alat dalam tubuhnya sudah berkembang lebih baik bila dibandingkan dengan bayi dismatur dengan berat yang sama. Dengan demikian bayi yang tidak dismatur lebih mudah hidup di luar kandungan. Walaupun demikian harus waspada akan terjadinya beberapa komplikasi yang harus ditangani dengan baik. (Wiknjosastro H, 2007 Hal. 782). a. Aspirasi mekonium yang sering diikuti pneumotaritas Ini disebabkan stress yang sering dialami bayi pada persalinan. b. Usher (1970) melaporkan bahwa 50% bayi KMK mempunyai hemoglobin yang tinggi yang mungkin disebabkan oleh hipoksia kronik di dalam uterus. c. Hipoglikemia terutama bila pemberian minum terlambat agaknya hipoglikemia ini disebabkan oleh berkurangnya cadangan glikogen hati dan meningginya metabolisme bayi. d. Keadaan lain yang mungkin terjadi ; asfiksia, perdarahan paru yang pasif, hipotermia, cacat bawaan akibat kelainan kromosom (sindrom down's, turner dan lain-lain) cacat bawaan oleh karena infeksi intrauterine dan sebagainya. Adapun komplikasi pada BBLR jika bayi dismatur adalah, sebagai berikut : a. Suhu tubuh yang tidak stabil b. Gangguan pernafasan yang sering menimbulkan penyakit berat pada BBLR c. Gangguan alat pencernaan dan problema nutrisi d. Ginjal yang immature baik secara otomatis maupun fungsinya. e. Perdarahan mudah terjadi karena pembuluh darah yang rapuh. f. Gangguan immunologic. (Wiknjosastro H, 2007, Hal. 776) 2.5.Pemeriksaan Diagnostik • Pemeriksaan glucose darah terhadap hipoglikemia • Pemantauan gas darah sesuai kebutuhan • Titer Torch sesuai indikasi • Pemeriksaan kromosom sesuai indikasi • Pemantauan elektrolit • Pemeriksaan sinar X sesuai kebutuhan ( missal : foto thorax ). 2.6.Penatalaksanaan 1. Prematuritas murni Mengingat belum sempurnanya kerja alat-alat tubuh yang perlu untuk pertumbuhan dan perkembangan serta penyesuaian diri dengan lingkungan hidup di luar uterus maka perlu diperhatikan pengaturan suhu lingkungan, pemberian makanan dan bila perlu oksigen, mencegah infeksi serta mencegah kekurangan vitamin dan zat besi. a. Pengaturan suhu badan bayi prematuritas/ BBLR Bayi prematuritas dengan cepat akan kehilangan panas badan dan menjadi hipotermia, karena pusat pengaturan panas badan belum berfungsi dengan baik, metabolismenya rendah dan permukaan badan relatif luas oleh karena itu bayi prematuritas harus dirawat di dalam inkubator sehingga panas badannya mendekati dalam rahim. Bila bayi dirawat dalam inkubator maka suhu bayi dengan berat badan , 2 kg adalah 35 derajat celcius dan untuk bayi dengan berat badan 2-2,5 kg adalah 33-34 derajat celcius. Bila inkubator tidak ada bayi dapat dibungkus dengan kain dan disampingnya ditaruh botol yang berisi air panas, sehingga panan badannya dapat dipertahankan. b. Makanan bayi prematur Alat pencernaan bayi prematur masih belum sempurna, lambung kecil, enzim pencernaan belum matang, sedangkan kebutuhan protein 3-5 gr/kg BB dan kalori 110 kal/kg BB sehingga pertumbuhannya dapat meningkat. Pemberian minum bayi sekitar 3 jam setelah lahir dan didahului dengan menghisap cairan lambung. Refleks menghisap masih lemah,sehingga pemberian minum sebaiknya sedikit demi sedikit, tetapi frekwensi yang lebih sering. ASI merupakan makanan yang paling utama,sehingga ASI lah yang paling dahulu diberikan. Bila faktor menghisapnya kurang maka ASI dapat diperas dan diminumkan dengan sendok perlahan-lahan atau dengan memasang sonde menuju lambung. Permulaan cairan diberikan sekitar 50-60 cc/kg BB/ hari dan terus dinaikkan sampai mencapai sekitar 200 cc/kg BB/ hari. c. Menghindari infeksi Bayi prematuritas mudah sekali terkena infeksi, karena daya tahan tubuh yang masih lemah,kemampuan leukosit masih kurang dan pembentukan anti bodi belum sempurna. Oleh karena itu, upaya preventif sudah dilakukan sejak pengawasan antenatal sehingga tidak terjadi persalinan prematuritas ( BBLR). Dengan demikian perawatan dan pengawasan bayi prematuritas secara khusus dan terisolasi dengan baik. 2. Dismaturitas (KMK) a. Pengaturan suhu bayi dismatur mudah dan cepat sekali menderita hipotermia bila berada dilingkungan yang dingin kehilangan panas disebabkan oleh permukaan tubuh bayi yang relatif lebih luas bila dibandingkan dengan berat badan, kurangnya jaringan lemak dibawah kulit dan kekurangan lingkungan yang cukup hangat untuk bayi dan dalam keadaan istirahat, konsumsi oksigen paling sedikit, sehingga suhu tubuh bayi setiap normal. Bila bayi dirawat didalam incubator, maka suhunya untuk bayi dengan BB 2 - 2,5 kg adalah 340C. jika ditempat pertolongan tidak ada incubator maka bayi di bungkus bayi dan meletakkan botol-botol hangat di sekitarnya atau dengan memasang lampu petromaks di dekat tempat tidur bayi. b. Pemberian minum (Wiknjosastro H, 2007) Pada bayi dismatur reflek isap, telan dan batuk belum sempurna, kapasitas lambung masih sedikit, daya enzim pencernaan terutama lipase masih kurang. Prinsip pemberian minum ialah early feeding yaitu minum sesudah berumur 2jam untuk mencegah penurunan berat badan, hipglikemia, dan hiperbilirubinemia. Pemberian minum sesuai jumlah kebutuhan. c. Perlindungan terhadap infeksi (Wiknjosastro H, 2007, hal. 783) 1) Pemeriksaan pertumbuhan dan perkembangan janin intrauterine serta menemukan gangguan pertumbuhan misalnya dengan pemeriksaan ultrasonografi. 2) Memeriksa kadar gula darah dengan dextrostik atau di laboratorium. Bila terbuka adanya hipoglikemia harus segera diatasi. 3) Pemeriksaan hematokrit dan mengobati hiperviskositasnya. 4) Melakukan tracheal - washing pada bayi yang diduga akan menderita aspirasi mekonium. d. Perawatan bayi dengan metode kanguru Dengan mengenakan popok dan tutup kepala pada bayi baru lahir kemudian, bayi diletakkan diantara payudara ibu dan ditutup baju ibu yang berfungsi sebagai kantung kanguru. Posisi bayi tegak ketika ibu berdiri atau duduk dan tengkurap atau miring ketika ibu berbaring. (Perinasia, Direktorat Jenderal Bina Pelayanan Medik, Depkes RI dan Health Service Program – USAID, 2008). BAB III ASUHAN KEPERAWATAN BBLR 3.1.Pengkajian 1. Data Subyektif Data subyektif terdiri dari a. Biodata atau identitas pasien : Bayi meliputi nama tempat tanggal lahir jenis kelamin Orangtua meliputi : nama (ayah dan ibu, umur, agama, suku atau kebangsaan, pendidikan, penghasilan pekerjaan, dan alamat (TalbottLaura A, 1997 : 6). b. Riwayat kesehatan Riwayat antenatal yang perlu dikaji atau diketahui dari riwayat antenatal pada kasus BBLR yaitu: • Keadaan ibu selama hamil dengan anemia, hipertensi, gizi buruk, merokok ketergantungan obat-obatan atau dengan penyakit seperti diabetes mellitus, kardiovaskuler dan paru. • Kehamilan dengan resiko persalinan preterm misalnya kelahiran multiple, kelainan kongenital, riwayat persalinan preterm. • Pemeriksaan kehamilan yang tidak kontinyuitas atau periksa tetapi tidak teratur dan periksa kehamilan tidak pada petugas kesehatan. • Hari pertama hari terakhir tidak sesuai dengan usia kehamilan (kehamilan postdate atau preterm). Riwayat natal komplikasi persalinan juga mempunyai kaitan yang sangat erat dengan permasalahan pada bayi baru lahir. Yang perlu dikaji : • Kala I : perdarahan antepartum baik solusio plasenta maupun plasenta previa. • Kala II : Persalinan dengan tindakan bedah caesar, karena pemakaian obat penenang (narkose) yang dapat menekan sistem pusat pernafasan. Riwayat post natal Yang perlu dikaji antara lain : • Agar score bayi baru lahir 1 menit pertama dan 5 menit kedua AS (0-3) asfiksia berat, AS (4-6) asfiksia sedang, AS (7-10) asfiksia ringan. • Berat badan lahir : Preterm/BBLR < 2500 gram, untu aterm 2500 gram lingkar kepala kurang atau lebih dari normal (34-36 cm). • Adanya kelainan kongenital : Anencephal, hirocephalus anetrecial aesofagal. c. Pola nutrisi Yang perlu dikaji pada bayi dengan BBLR gangguan absorbsi gastrointentinal, muntah aspirasi, kelemahan menghisap sehingga perlu diberikan cairan parentral atau personde sesuai dengan kondisi bayi untuk mencukupi kebutuhan elektrolit, cairan, kalori dan juga untuk mengkoreksi dehidrasi, asidosis metabolik, hipoglikemi disamping untuk pemberian obat intravena. Kebutuhan parenteral : • Bayi BBLR < 1500 gram menggunakan D5% • Bayi BBLR > 1500 gram menggunakan D10% Kebutuhan nutrisi enteral : • BB < 1250 gram = 24 kali per 24 jam • BB 1250-< 2000 gram = 12 kali per 24 jam • BB > 2000 gram = 8 kali per 24 jam Kebutuhan minum pada neonatus : • Hari ke 1 = 50-60 cc/kg BB/hari • Hari ke 2 = 90 cc/kg BB/hari • Hari ke 3 = 120 cc/kg BB/hari • Hari ke 4 = 150 cc/kg BB/hari Dan untuk tiap harinya sampai mencapai 180 – 200 cc/kg BB/hari (Iskandar Wahidiyat, 1991 :1). d. Pola eliminasi Yang perlu dikaji pada neonatus adalah : • BAB : frekwensi, jumlah, konsistensi. • BAK : frekwensi, jumlah e. Latar belakang sosial budaya • Kebudayaan yang berpengaruh terhadap BBLR kebiasaan ibu merokok, ketergantungan obat-obatan tertentu terutama jenis psikotropika. • Kebiasaan ibu mengkonsumsi minuman beralkohol, kebiasaan ibu melakukan diet ketat atau pantang makanan tertentu. f. Hubungan psikologis Sebaiknya segera setelah bayi baru lahir dilakukan rawat gabung dengan ibu jika kondisi bayi memungkinkan. Hal ini berguna sekali dimana bayi akan mendapatkan kasih sayang dan perhatian serta dapat mempererat hubungan psikologis antara ibu dan bayi. Lain halnya dengan BBLR karena memerlukan perawatan yang intensif. 2. Data Obyektif Data obyektif adalah data yang diperoleh melalui suatu pengukuran dan pemeriksaan dengan menggunakan standart yang diakui atau berlaku (Effendi Nasrul, 1995). a. Keadaan umum Pada neonatus dengan BBLR, keadaannya lemah dan hanya merintih. Keadaan akan membaik bila menunjukkan gerakan yang aktif dan menangis keras. Kesadaran neonatus dapat dilihat dari responnya terhadap rangsangan. Adanya BB yang stabil, panjang badan sesuai dengan usianya tidak ada pembesaran lingkar kepala dapat menunjukkan kondisi neonatus yang baik. b. Tanda-tanda Vital Neonatus post asfiksia berat kondisi akan baik apabila penanganan asfiksia benar, tepat dan cepat. Untuk bayi preterm beresiko terjadinya hipothermi bila suhu tubuh < 36 C dan beresiko terjadi hipertermi bila suhu tubuh < 37C. Sedangkan suhu normal tubuh antara 36,5C – 37,5C, nadi normal antara 120-140 kali per menit respirasi normal antara 40-60 kali permenit, sering pada bayi post asfiksia berat pernafasan belum teratur (Potter Patricia A, 1996 : 87). Pemeriksaan fisik adalah melakukan pemeriksaan fisik pasien untuk menentukan kesehatan pasien (Effendi Nasrul, 1995). c. Kulit Warna kulit tubuh merah, sedangkan ekstrimitas berwarna biru, pada bayi preterm terdapat lanugo dan verniks. d. Kepala Kemungkinan ditemukan caput succedaneum atau cephal haematom, ubun-ubun besar cekung atau cembung kemungkinan adanya peningkatan tekanan intrakranial. e. Mata Warna conjunctiva anemis atau tidak anemis, tidak ada bleeding conjunctiva, warna sklera tidak kuning, pupil menunjukkan refleksi terhadap cahaya. f. Hidung Terdapat pernafasan cuping hidung dan terdapat penumpukan lendir. g. Mulut Bibir berwarna pucat ataupun merah, ada lendir atau tidak. h. Telinga Perhatikan kebersihannya dan adanya kelainan. i. Leher Perhatikan kebersihannya karena leher nenoatus pendek. j. Thorax Bentuk simetris, terdapat tarikan intercostal, perhatikan suara wheezing dan ronchi, frekwensi bunyi jantung lebih dari 100 kali per menit. k. Abdomen Bentuk silindris, hepar bayi terletak 1 – 2 cm dibawah arcus costaae pada garis papila mamae, lien tidak teraba, perut buncit berarti adanya asites atau tumor, perut cekung adanya hernia diafragma, bising usus timbul 1 sampai 2 jam setelah masa kelahiran bayi, sering terdapat retensi karena GI Tract belum sempurna. l. Umbilikus Tali pusat layu, perhatikan ada pendarahan atau tidak, adanya tanda – tanda infeksi pada tali pusat. m. Genitalia Pada neonatus aterm testis harus turun, lihat adakah kelainan letak muara uretra pada neonatus laki – laki, neonatus perempuan lihat labia mayor dan labia minor, adanya sekresi mucus keputihan, kadang perdarahan. n. Anus Perhatiakan adanya darah dalam tinja, frekuensi buang air besar serta warna dari faeses. o. Ekstremitas Warna biru, gerakan lemah, akral dingin, perhatikan adanya patah tulang atau adanya kelumpuhan syaraf atau keadaan jari-jari tangan serta jumlahnya. p. Refleks Pada neonatus preterm post asfiksia berat reflek moro dan sucking lemah. Reflek moro dapat memberi keterangan mengenai keadaan susunan syaraf pusat atau adanya patah tulang (Iskandar Wahidiyat, 1991 : 155 dan Potter Patricia A, 1996 : 109-356). 3. Data Penunjang Data penunjang pemeriksaan laboratorium penting artinya dalam menegakkan diagnosa atau kausal yang tepat sehingga kita dapat memberikan obat yang tepat pula. Pemeriksaan yang diperlukan adalah : • Darah : GDA > 20 mg/dl, test kematangan paru, CRP, Hb dan Bilirubin : > 10 mg/dl 3.2.Diagnosa Keperawatan Diagnosa keperawatan yang sering muncul pada neonatus dengan BBLR antara lain: 1. Gangguan pertukaran gas sehubungan dengan produksi surfactan yang belum optimal. 2. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi sehubungan dengan reflek menghisap lemah. 3. Resiko terjadinya hipoglikemia b/d meningkatnya metabolisme tubuh neonatus. 4. Resiko terjadinya hipotermia b/d lapisan lemak kulit yang tipis. 5. Resiko terjadinya infeksi b/d tali pusat yang belum kering, imunitasyang belum sempurna, ketuban meconial. 6. Gangguan hubungan interpersonal antara ibu dan bayi sehubungan dengan rawat terpisah. 3.3.Intervensi Keperawatan No Diagnosa Perawatan Tujuan dan Kriteria Intervensi Rasional 1 Gangguan pertukaran gas b/d produksi surfactan yang belum optimal. Kebutuhan O2 bayi terpenuhi Kriteria: • Pernafasan normal 40-60 kali permenit. • Pernafasan teratur. • Tidak cyanosis. • Wajah dan seluruh tubuh. 1. Letakkan bayi terlentang dengan alas yang data, kepala lurus, dan leher sedikit tengadah/ekstensi dengan meletakkan bantal atau selimut diatas bahu bayi sehingga bahu terangkat 2-3 cm. Memberi rasa nyaman dan mengantisipasi flexi leher yang dapat mengurangi kelancaran jalan nafas. • Berwarn kemerahan (pink variable). • Gas darah normal • PH = 7,35 – 7,45 • PCO2 = 35 mm Hg • PO2 = 50 – 90 mmHg 2. Bersihkan jalan nafas, mulut, hidung bila perlu. Jalan nafas harus tetap dipertahankan bebas dari lendir untuk menjamin pertukaran gas yang sempurna. 3. Observasi gejala kardinal dan tanda-tanda cyanosis tiap 4 jam. Deteksi dini adanya kelainan. 4. Kolaborasi dengan team medis dalam pemberian O2dan pemeriksaan kadar gas darah arteri. Mencegah terjadinya hipoglikemia. 2. Resiko terjadinya hipotermi b/d lapisan lemak pada kulit yang masih tipis. Tidak terjadi hipotermia , Kriteria : • Suhu tubuh 36,5 – 37,5°C. • Akral hangat • Warna seluruh tubuh kemerahan 1. Letakkan bayi terlentang diatas pemancar panas (infant warmer Mengurangi kehilangan panas pada suhu lingkungan sehingga meletakkan bayi menjadi hangat. 2. Singkirkan kain yang sudah dipakai untuk mengeringkan tubuh, letakkan bayi diatas tubuh, letakkan bayi diatas handuk / kain yang kering dan hangat. Mencegah kehilangan tubuh melalui konduksi. 3. Observasi suhu bayi tiap 6 jam. Perubahan suhu tubuh bayi dapat menentukan tingkat hipotermia. 4. Kolaborasi dengan team medis untuk pemberian Infus Glukosa 5% bila ASI tidak mungkin diberikan. Mencegah terjadinya hipoglikemia. 3. Resiko gangguan penemuan kebutuhan nutrisi sehubungan dengan reflek menghisap lemah. Kebutuhan nutrisi terpenuhi Kriteria : • Bayi dapat minum pespeen / personde dengan baik. 1. Lakukan observasi BAB dan BAK jumlah dan frekuensi serta konsistensi. Deteksi adanya kelainan pada eliminasi bayi dan segera mendapat tindakan / perawatan yang tepat. • Berat badan tidak turun lebih dari 10%. • Retensi tidak ada. 2. Monitor turgor dan mukosa mulut. Menentukan derajat dehidrasi dari turgor dan mukosa mulut. 3. Monitor intake dan out put. Mengetahui keseimbangan cairan tubuh (balance). 4. Beri ASI/PASI sesuai kebutuhan. Kebutuhan nutrisi terpenuhi secara adekuat. 5. Lakukan control berat badan setiap hari. Penambahan dan penurunan berat badan dapat di monitor. 6. Lakukan control berat badan setiap hari. Penambahan dan penurunan berat badan dapat di monitor. 4. Resiko terjadinya infeksi Selama perawatan tidak terjadi komplikasi (infeksi), Kriteria : 1. Lakukan teknik aseptik dan antiseptik dalam memberikan asuhan keperawatan. Pada bayi baru lahir daya tahan tubuhnya kurang / rendah. • Tidak ada tanda-tanda infeksi. • Tidak ada gangguan fungsi tubuh. 2. Cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan. Mencegah penyebaran infeksi nosokomial. 3. Pakai baju khusus/ short waktu masuk ruang isolasi (kamar bayi). Mencegah masuknya bakteri dari baju petugas ke bayi. 4. Lakukan perawatan tali pusat dengan triple dye 2 kali sehari. Mencegah terjadinya infeksi dan memper-cepat pengeringan tali pusat karena mengan-dung anti biotik, anti jamur, desinfektan. 5. Jaga kebersihan (badan, pakaian) dan lingkungan bayi. Mengurangi media untuk pertumbuhan kuman. 6. Observasi tanda-tanda infeksi dan gejala kardinal. Deteksi dini adanya kelainan. 7. Hindarkan bayi kontak dengan sakit. Mencegah terjadinya penularan infeksi. 8. Kolaborasi dengan team medis untuk pemberian antibiotik. Mencegah infeksi dari pneumonia. 9. Siapkan pemeriksaan laboratorat sesuai advis dokter yaitu pemeriksaan DL, CRP. Sebagai pemeriksaan penunjang. 5. Resiko terjadinya hipoglikemia sehubungan dengan metabolisme yang meningkat. Tidak terjadi hipoglikemia selama masa perawatan, Kriteria : • Akral hangat • Tidak cyanosis • Tidak apnea • Suhu normal (36,5°C -37,5°C). 1. Berikan nutrisi secara adekuat dan catat serta monitor setiap pemberian nutrisi. Mencega pembakaran glikogen dalam tubuh dan untuk pemantauan intake dan out put. • Distrostik normal (> 40 mg). 2. Beri selimut dan bungkus bayi serta perhatikan suhu lingkungan Menjaga kehangatan agar tidak terjadi proses pengeluaran suhu yang berlebihan sedangkan suhu lingkungan berpengaruh pada suhu bayi. 3. Observasi gejala kardinal (suhu, nadi, respirasi). Deteksi dini adanya kelainan. 4. Kolaborasi dengan team medis untuk pemeriksaan laborat yaitu distrostik. Untuk mencegah terjadinya hipoglikemia lebih lanjut dan kompli-kasi yang ditimbulkan pada organ - organ tubuh yang lain. 6. Gangguan hubungan interpersonal antara bayi dan ibu sehubungan dengan perawatan intensif. Terjadinya hubungan batin antara bayi dan ibu, 1. para ibu / keluarga tentang keadaan bayinya sekarang. Ibu mengerti keadaan bayinya dan mengura-ngi kecemasan serta untuk kooperatifan ibu/keluarga. Kriteria: • Ibu dapat segera menggendong dan meneteki bayi. 2. Bantu orang tua / ibu mengungkapkan perasaannya. Membantu memecah-kan permasalahan yang dihadapi. • Bayi segera pulang dan ibu dapat merawat bayinya sendiri. 3. Orientasi ibu pada lingkungan rumah sakit. Ketidaktahuan memperbesar stressor. 4. Tunjukkan bayi pada saat ibu berkunjung (batasi oleh kaca pembatas). Menjalin kontak batin antara ibu dan bayi walaupun hanya melalui kaca pembatas. 5. Lakukan rawat gabung jika keadaan ibu dan bayi jika keadaan bayi memungkinkan. Rawat gabung merupakan upaya mempererat hubungan ibu dan bayi/setelah bayi diperbolehkan pulang. 3.4.Implementasi Keperawatan Tindakan keperawatan adalah pelaksanaan asuhan keperawatan yang merupakan realisasi rencana tindakan yang telah ditentukan dalam tahap perencanaan dengan maksud agar kebutuhan pasien terpenuhi secara optimal (Santosa NI, 1995). 3.5.Evaluasi Evaluasi adalah merupakan langkah akhir dari proses keperawatan yaitu proses penilaian pencapaian tujuan dalam rencana perawatan, tercapai atau tidak serta untuk pengkajian ulang rencana keperawatan (Santosa NI, 1995). Evaluasi dilakukan secara terus menerus dengan melibatkan pasien, perawat dan petugas kesehatan yang lain. Dalam menentukan tercapainya suatu tujuan asuhan keperawatan pada bayi dengan post Asfiksia sedang, disesuaikan dengan kriteria evaluasi yang telah ditentukan. Tujuan asuhan keperawatan dikatakan berhasil bila diagnosa keperawatan didapatkan hasil yang sesuai dengan kriteria evaluasi. BAB IV PENUTUP 4.1.Kesimpulan Masa neonatus dan beberapa minggu sesudahnya masih merupakan masa yang rawan karena disamping kekebalan yang masih kurang juga gejala penyakit spesifik. Pada periode-periode tersebut tidak dapat dibedakan/sulit dibedakan dengan penyakit lain sehingga sulit dideteksi pada usia minggu-minggu pertama kelainanyang timbul banyak yang berkaitan dengan masa kehamilan/proses persalinan sehingga perlu penanganan segera dan khusus. Bayi lahir dengan bayi berat lahir rendah (BBLR) merupakan salah satu factor resiko yang mempunyai kontribusi terhadap kematian bayi khususnya pada masa perinatal. Selain itu bayi berat lahir rendah dapat mengalami gangguan mental dan fisik pada usia tumbuh kembang selanjutnya, sehingga membutahkan biaya perawatan yang tinggi. 4.2.Saran 1. Meningkatkan pengawasan pada bayi baru lahir dengan BBLR. 2. Menambah informasi dan pengetahuan tentang asuhan kebidanan pada bayi baru lahir dengan BBLR. 3. Meningkatkan pelayanan pada bayi baru lahir dengan BBLR. DAFTAR PUSTAKA Mochtar, Rustam.1998, synopsis obstetric. Jakarta :EGC Yayasan bina pustaka sarwono prawirohardjo, 2007. Buku acuan nasional pelayanan Wong, donna,L.2004 . Pedoman klinis keperawatan pediatric. Jakarta : EGC http://marsupilami13.blogspot.com/2013/04/makalah-bblr_3253.html http://wacanakampusstikper.blogspot.com/2013/03/askep-bblr.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar